You are currently viewing TEMAN BAHASA: LANGKAH TEROBOSAN KONSERVASI BAHASA DAERAH

TEMAN BAHASA: LANGKAH TEROBOSAN KONSERVASI BAHASA DAERAH

Andi Ahmad Raehan Rabbani dan Nurul Alwiah

Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Tahun 2022

Kepunahan merupakan virus yang menyerang eksistensi bahasa daerah saat ini. Fenomena kebahasaan tersebut sangat mengerikan, sebab UNESCO menegaskan bahwa dalam kurun waktu 2 minggu, terdapat 7.000 bahasa daerah yang punah[1] (kematian bahasa). Angka itu jauh lebih signifikan dibanding angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia berdasarkan data yang diolah dari laman covid19.go.id yakni 5278,17 dalam sebulan. Jika Covid-19 membuat negara Indonesia dalam keadan darurat, tentunya kepunahan bahasa jauh lebih darurat.

Upaya melakukan pencegahan terhadap penyebaran Covid-19 dilakukan dengan cara vaksinasi. Oleh sebab itu langkah yang sistematis, terstruktur, dan masif berupa konservasi juga dibutuhkan untuk mencegah kepunahan bahasa daerah. Konservasi dalam konteks pelindungan bahasa merupakan upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa agar tetap dipergunakan oleh masyarakat penuturnya. Hal tersebut diwujudkan dengan bentuk pendokumentasian sekaligus pengembangan bahasa sebagai upaya pencegahan dan perbaikan.[2]

Linimasa Kematian dan Upaya Konservasi Bahasa di Indonesia

Sebagai negara kedua dengan keanekaragaman bahasa daerah paling banyak di dunia, tentunya ancaman kepunahan bahasa daerah di Indonesia relatif lebih besar dibandingkan negara lainnya. Menurut data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaaan, Riset, dan Teknologi mengemukakan bahwa terdapat 11 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah[3] dan 25 bahasa daerah yang terancam punah.[4] Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra (Pusbanglin), Imam Budi Utomo mengemukakan berbagai upaya perlindungan bahasa dan sastra yaitu: 1) pemetaan bahasa; 2) kajian vitalitas bahasa; 3) konservasi; 4) revitalisasi; dan 5) registrasi. Upaya revitalisasi saat ini berusaha dimasifkan. Tentunya untuk mendukung revitalisasi yang berorientasi pada generasi muda sebagai penutur aktif bahasa daerah, maka konservasi yang berorientasi pada terpeliharannya aset kebahasaan adalah suatu hal yang niscaya untuk dilakukan. Sebab revitalisasi dan konservasi merupakan sesuatu yang inheren dan komplementer sehingga tidak dapat dipisahkan. Konservasi bahasa merupakan langkah taktis yang semakin penting untuk segera diwujudkan. Sebab, program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) yang bertujuan untuk mendorong pemahaman tentang keragaman budaya, adat istiadat, suku bangsa, dan bahasa berpotensi menyebabkan efek negatif berupa gegar bahasa (language shock)[5]. Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Sri Gunani Partiwi pada bulan Juli 2022 menyampaikan bahwa terdapat 12.722 mahasiswa yang mengikuti PMM.[6] Secara spesifik di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan akun Instagram Pertukaran Mahasiswa Merdeka, terdapat 1260 mahasiswa PMM. Data ini koheren dengan potensi yang akan terkena gegar bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan.

Diagram 1. Data Persebaran Mahasiswa PPM di Sulawesi Selatan

Sumber: Instagram Resmi Pertukaran Mahasiswa Merdeka (diolah)

Laman Bahasa Sebagai Simpul Konservasi Bahasa Daerah

Generasi muda tentunya memiliki peranan multisektoral, yakni sebagai patron utama dalam pelaksanaan konservasi bahasa daerah, juga sebagai mitra pendukung pemerintah dalam mengembangkan dan memberdayakan kebijakan pemerintah agar dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Duta bahasa merupakan perwakilan generasi muda yang dapat menjadi jaring penghubung antara pemerintah dengan generasi penerus bangsa. Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat menciptakan krida Teman Bahasa (ManBa) dalam rangka mewujudkan konservasi bahasa daerah dengan pendekatan teknologi. Selain bersesuaian dengan program pemerintah pusat, hal ini juga koheren dengan misi Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai misi untuk mengembangkan dan melindungi bahasa dan sastra serta meningkatkan mutu tenaga kebahasaan dan kesastraan.

ManBa merupakan krida yang dikemas dalam bentuk laman sehingga bersifat sangat adaptif dan responsif terhadap kemajuan zaman. ManBa berisi berbagai fitur yang disajikan dengan pendekatan visual, audio dan kinestetik.

Gambar 1. Bagan Mengenai Fitur dan Media Teman Bahasa

Sumber: Data Sekunder (diolah)

Pengembangan laman ini akan dikembangkan secara bertahap untuk mengoptimalkan evaluasi dan monitoring krida secara berkala. Tahap pertama, dengan analisis berbasis resiko dan faktual, dan ketersediaan sarana dan prasarana, maka objek yang menjadi sasaran krida adalah mahasiswa yang mengikuti program PMM. Sebab, pemerintah telah menggencarkan program PMM yang memiliki potensi gegar bahasa. Selain itu, dari segi sarana dan prasarana, mahasiswa PMM, mempunyai tugas yang berkenaan dengan wawasan nusantara. Oleh sebab itu, melalui wawasan nusantara ini, pemanfaatan ManBa akan optimal.

Guna memastikan krida ini mampu memberikan manfaat sesuai penciptaannya, maka diterapkan analisis KPAH dalam pengembangan krida ini.

Kekuatan

  1. Dilandasi dengan latar belakang permasalahan yang akurat.
  2. Didukung dengan pemanfaatan teknologi yang memadai.
  3. Pendekatan pemecahan masalah yang komprehensif, sebab menganalisis dengan berbasis pada resiko, fakta, sarana dan prasarana.
  4. Fitur dan media yang lengkap sehingga memiliki daya guna yang tinggi.
  5. Menjadi salah satu sarana pengenalan, diplomasi, serta pembelajaran bahasa daerah yang mudah diakses dan dijangkau masyarakat.
  6. Laman yang faktual yang dapat membantu tugas dan fungsi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ymeningkatkan keterlibatan bahasa dan sastra dalam membangun ekosistem pendidikan dan kebudayaan serta membantu mahasiswa PMM dengan kegiatan Modul Nusantara.
  7. Membantu pemberdayaan laman Balai Bahasa untuk lebih interaktif.
  8. Memudahkan target sasaran untuk mempelajari bahasa daerah dengan tiga metode belajar.
  9. Disertai fitur tambahan yang membantu target sasaran dalam menghargai perbedaaan.

Peluang

  1. Minimnya laman berbasis digital yang inklusif dan mudah diakses terkait bahasa dan sastra daerah Sulawesi Selatan.
  2. Berdasarkan analisis kebutuhan yang telah dilakukan. Misalnya sasaran pada tahap pertama mengungkapkan bahwa dalam program PMM bagian Modul Nusantara pada pengenalan bahasa dan budaya belum memiliki penjelasan yang jelas, utamanya dalam penggunaan kaidah kebahasaan klitik Sulawesi Selatan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Sejalan dengan salah satu kegiatan Kemendikbudristekdikti yang sampai saat ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu Pertukaran Mahasiswa Merdeka.
  4. Memudahkan pengguna dengan penggunaan kode responsif dengan memindai stiker Pindai Pandai (PinPan)[7].

Aspirasi

ManBa diharapkan dapat menjadi krida yang paten digunakan dalam kegiatan modul nusantara MBKM bagian pengenalan bahasa dan kesastraan di Sulawesi Selatan sehingga pelaksanaannya dapat berkelanjutan.

Hasil

  1. Fokus mensosialisasikan krida ManBa dengan melibatkan berbagai media untuk mencapai eksistensi ManBa (September 2022-Januari 2023)
  2. Memperbarui konten serta fitur ManBa dan memperluas jangkauan (Februari-April 2023)
  3. Giat melaksanakan krida ManBa (Mei-seterusnya).
  4. Berdasarkan urgensi pengadaan, pendekatan teknologi, fitur, media, serta basis analisis yang digunakan. ManBa menjadi satu laman inklusif yang bersifat adaktif, terjangkau, dan efektif dalam rangka melakukan perlindungan terhadap bahasa melalui pendokumentasian bahasa daerah.


[1] Detikedu, (2022, Maret 17), Ada Bahasa Daerah di Indonesia yang Terancam Punah, Apa Sebabnya?, diakses dari https://www.google.com/amp/s/www.detik.com/edu/detikpedia/d-5988392/ada-bahasa-daerah-di-indonesia-yang-terancam-punah-apa-sebabnya/amp, pada 11 Oktober 2022.

[2] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (2017), Pedoman Konservasi dan Revitalisasi Bahasa, Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, hlm. 9.

[3] CNN Indonesia, (2022, Juni 30), Data Kemdikbud: 11 Bahasa Daerah di Indonesia Punah, Maluku Terbanyak, diakses dari https://www.google.com/amp/s/www.cnnindonesia.com/nasional/20220629134646-20-814988/data-kemdikbud-11-bahasa-daerah-di-indonesia-punah-maluku-terbanyak/amp, Pada 11 Oktober 2022.

[4] CNN Indonesia, (2022, Juni 30), 25 Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah, diakses dari https://www.google.com/amp/s/www.cnnindonesia.com/nasional/20220629173143-20-815157/25-bahasa-daerah-di-indonesia-terancam-punah/amp, pada 11 Oktober 2022.

[5] Gegar Bahasa merupakan salah satu variabel sikap yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas kontak yang dilakukan pemelajar Bahasa kedua (Second Language Learner/2LL) dengan Bahasa target (Target Language/TL). Gegar bahasa menguraikan tentang sejauh mana pengalaman  berbicara menggunakan bahasa target membuat pemelajar merasa bodoh atau memalukan. Gegar bahasa tersebut terjadi ketika seseorang berpindah dari satu lingkungan bahasa ke lingkungan bahasa yang lain.

[6] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (2022, Juli 19), “Pembekalan Peserta Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka 2 Tahun 2022 Dimulai,” diakses dari https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/07/pembekalan-peserta-program-pertukaran-mahasiswa-merdeka-2-tahun-2022-dimulai, pada 19 Oktober 2022.

[7] Pindai Pandai (PinPan) merupakan krida Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021 yang dielaborasi ke dalam krida ManBa.

Leave a Reply